Suatu masa yang pernah kulalui dalam lembaran hidup, menuntunku tuk tinggalkan nafsi-nafsi. Ketika aku ingin berikan sebuah rasa di hatinya, dia lebih dulu terbang tebarkan dinginnya salju. Aku tak pernah memiliki perasaanku dengan utuh, terlebih pada seorang dewi bermahkota helaian cinta. Dia layaknya sang bulan bersinar menawan, terangi hati dengan kecerahan. Namun sinarnya bukanlah daripadanya, hanyalah seberkas pantulan karna dogma-dogma.
Aku akui, terkadang aku terlalu munafik. Membuang diriku pada lorong-lorong kebingungan. Menyepi dari keramaian dan canda-tawa, menutupi diriku dengan jubah tebal dari wewangian dunia dan warna-warni pesta. Semuanya hanya untuk merasakan nikmatnya kebencian asa dari rongrongan lembut keegoisan hati. Masokis! Aku pun tak mampu ungkapkan diriku ini padanya, sebebas merpati nan elok terbang di taman Eden. Setiap kuingin merajut jaring-jaring kilauan jiwa pada dinding-dinding kencananya, aku tak adapat menapakkan kaki dengan tegak. Hanya kutempatkan tanganku untuk meraba, walau sesaat.
Dia, yang telah pergi di antara guguran daun-daun jiwaku. Dengan iringan sutera ipis yang putih membentang, bersama sunggingan senyum menawannya. Mempermainkan aliran emosiku…..sakit benar di dalam sini. Harusnya kupecahkan saja cawan dalam hatiku, saat kuingin mengisinya. Dan aku tak pernah bisa memilikinya, sebelum aku singgah di pelabuhan itu, disambut matahari hangat.
Sore itu, ketika mentari hendak ke peraduannya. Warna ungu yang mulai memayungi bumi dan angin dingin berhembus. Aku berjalan di antara guguran daun-daun, warna coklat dan diam membisu penghabisan takdir. Tibalah aku di depan gerbang Santo Paulus Miki. Memori demi memori silih berganti seperti putaran rol film. Hidupku memang sinematik. Di sana aku selalu melihat bayangmu jua. Tak pernah bosan kau tersenyum padaku adanya, saat itu. Ya seperti saat ini, kala ungu memayungi bumi, kujemput dirimu, lain tidak. Kunaiki tangga satu-satu, sambil terus menerawang jauh. Di antara langkahku dan di antara pikirku, kulihat binar matamu, lain tidak.
Aku masih saja melangkah, dan semakin masuk ke dalam gereja. “Ini bukan tempatku,” bisikku lirih dari hati. Aku tetap melangkah dan melangkah, satu kaki menapak bumi bersama hembusan nafasku. Bangku-bangku jemaat yang sama, tiang lilin yang sama, dan kaca-kaca via dolorosa yang sama. Megah dan sunyi, tapi ada rasa terenyuh di sini. Romantisme masa lampau, perasaan ceria ketika kudapati dirimu duduk berdoa khusyuk waktu itu, dan ada jua kisah manusia yang absurd. “Hai, Flo……” Aku berucap meski kau tak ada saat ini, hanya mencoba untuk mengenang dan menghilangkan kering tenggorokanku karena mulut yang terkunci rapat. Aku duduk, di bangku yang biasanya kau tempati, lalu diam dalam bisu yang dingin. Kudengar suara-suara, Pastor yang membacakan wahyu dalam bahasa Latin-mengagumkan sekaligus aneh. Gema suara para jemaat ketika bernyanyi, samar-samar namun pasti menggetarkan sukma. Dan tentu….ada jua kudengar suaramu Flo, meski sangat pelan-lalu aku menangis.
Apa yang kau doakan Flo? Ketika kau mengusapkan air suci dari bejana, lalu berlutut di lantai marmer dingin. Apa yang kau doakan Flo? Kala matamu terpejam damai, dan senyum tersungging diantara sesapan bibirmu nan merekah. Tak perlu kau ucapkan padaku Flo, meski saat ini kau tak ada. Aku tahu dan mengerti, pada Rosario yang penghabisan kau berdoa untukku. Meski kau tahu kita berbeda, tapi doa yang tulus tak mengenal perbedaan kasta, harta, bahkan iman. Meski kau tak pernah mengucapnya dengan pasti, tapi aku tahu dalam rasa syukurmu ada aku, walau secuil.
Kiranya beda itu yang memisahkan kita, tapi dalam beda ada jarak rasa yang begitu dekat dan juga asa. Meski hanya satu sentimeter, itu adalah perihelium antara dirimu dan aku. Ketika mata memandang mata, dan degup jantung bagaikan kode morse, kita berbicara dalam diam, di jarak itu. Jarak itu pula yang membuat kita terbang walau sejenak, tuk saling bersapa dan membagi cerita hidup. Sudah dari awal yang kita tahu pasti, akan ada darah tertumpah di jarak itu, kita terus terbang-walau sesaat.Ini adalah satu dogma alam semesta Flo, yang ditulis sejak zaman Azali. Antara siang dan malam, matahari dan bulan, dwitunggal nun jauh di satu sisi namun juga berbeda di sisi lainnya.
Aku berlutut di depan mimbar, memjam mata dan memnunduk. Di luar gerimis, dan suaranya menitik-nitik di kaca-kaca gereja. Kurasakan seluruh ruangan sungguh menyaksikanku. Aku tak berdoa, karena tempatku bukan di sini. Aku menulis, di lantai marmer, di tembok-tembok, di kubah, dan di serat-serat kayu bangku.
Beri aku sehelai bulu dari sayapmu
Tuk kugenggam dalam kalbuku
Sebagai penjelmaan dari lakumu
Biarkan ia membelai lembut diriku
Menyusuri tiap lekuk tubuh yang rapuh
Beri aku usapan jemari lentikmu
Di saat air mata menetes dari mata sang pendosa
Untuk kau jernihkan airnya
Dan kau usapkan kembali pada helai-helai rambut
Biarlah meresap menembus jiwa
Untuk kurasakan betapa menyejukkan kasihmu
Goreskanlah pada telapak tangan ini
Tinta takdir dari ujung jemarimu
Untuk kau genggam astaku ini
Serta kau tuntun melewati terowongan waktu
Hingga penghabisan
Beri aku senyuman dari bibirmu
Agar aku tahu arti keceriaan mentari
Bersama gemericik musik air
Yang mengalir di matamu
Beri aku sebuah sesapan
Di mana nafas saling memburu
Bagai sepasang kekasih yang memendam rindu
Agar kita melayang bersama
Dengan angin sebagai pijakan
Dan kau merahkan jalan takdirku
Maka biarlah aku menangis di depanmu
Hingga jemari itu memeluk erat
Dan menghujamkan belati kegalauan hati
Biar kurasakan menembusku pelan tanpa sakit
Dan kaupun ikut menangis
Berakhirlah kisah Kamajaya Ratih
Yang selalu kita dendangkan
“Kau pergi?”
“Ya, Flo….”
“Secepat itu?”
“Kau baru saja singgah”
“Entah Flo”
“Sekarang, atau mungkin nanti…”
“Mungkin jua hanya jasadku..”
“Di luar hujan”
“Tuhan ada dalam hujan”
“Di sini juga ada..”
“Bukan tempatku, dan bukan takdirku”
“Aku mengerti….”
“……………………..”
“Jangan menunduk. Tataplah aku…”
“Tak perlu. Kau tahu aku selalu menatapmu dari hati…”
“Seperti pertama dulu ya..?” (Flo tersenyum)
“Pasti…”
“Flo…..kita makhluk setengah iblis…”
“Dan setengah malaikat…”
“Ketika dulu, saat pertama kali, sayap yang mana Flo..?”
“Keduanya”
“Dan kau…”
“Sama..”
“Saling menghujam busur dan saling membelai, bukan?”
“Seperti sekeping uang logam”
“Kutanya Gabriel….”
“Kutanya Jibril jua….”
“Ini pertarungan kita terakhir…..”
“Mungkin….tergantung kalkulasi takdir”
“……………………..”
“Flo…..”
“Aku pergi…….”
“……………………..”
“Hujan….di luar”
“Aku tahu”
“Tuhan ada dalam hujan…………”
Aku pergi. Dan dirimu pergi jualah. Meski rasanya pun terlalu absurd, karena itu tak mungkin adanya. Pada langit yang mengalir air rintik-rintik, pada harumnya tanah basah, pada pucuk-pucuk daun yang tergantung mutiara, pada jatuhnya sinar lampu kota yang temaram. Kita selesaikan pertarungan terakhir, dan jua percintaan terakhir. Tanpa darah yang memercik seperti guguran sakura, tanpa bermandi kelopak mawar. Bola mata yang saling menatap, layaknya sedang becermin satu sama lain. Biar kukenang dirimu yang sempurna, dalam ketiadaanmu. Akhir pertalian yang tak pasti, memastikan bahwa kita tak pernah menghapuskan jejak diriku dan dirimu dalam lautan pasir. Cukup di jalan ini saja, yang harus ditulis dengan tinta merah. Maka terjadilah…Amin.