Unconditional Question

Tiada niat untuk mengetik, sekilas pikirku tidak berada di sini. Pikiranku sedang melayang jauh di cakrawala imajinasi lain. Sama sekali tak tersalurkan pada jemari yang menunggu untuk berjingkat dan menari-nari di atas kibor. Tapi, toh, akhirnya kumulai juga menulis huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat.
Perasaan kemudian serasa menjuah-juah, di tengah himpitan kepenatan di penghujung ujian semester.
Tinggal menunggu Kuasa Illahi, maka terjadilah yang seharusnya terjadi! Itulah selalu pikirku yang menyusup cepat dalam tubuh manakala ujian telah selesai. Ketuntasan yang terasa belum tuntas, karena aku masih harus berjuang dengan dada membusung dan berusaha berlapang dada jikalau nilai-nilai yang kudapat melenceng dari harapan.
Apakah hidup harus seperti ini, selalu? Berjuang, berusaha lari sekuat tenaga mengejar impian, mengorbankan sesuatu demi suatu yang lain yang nampak tak pasti adanya. di saat lelah, tubuh tersungkur di lumpur-lumpur, lalu jiwa merintih di tengah hingar-bingar dunia. Di malam hari, kita kemudian bersimpuh di bawah cahaya yang temaram memnadikan tubuh yang letih. Lalu tangan memanjatkan doa pada Sang Kuasa, bergundah gulana dan memohon secuil ketenangan. Semuanya retoris, klise, dan pergerakkan dinamis manusia yang sekiranya satagnan menurutku. Lebih terasa seperti candu . Marx bekata agama itu candu, tapi buatku kehidupan pun sebenarnya candu yang terpaksa kita sesap dan setubuhi.
Untuk apa kita berusaha? Untuk apa kita mengejar segala sesuatu keindahan yang membuat kita nyalang dan menjadi pejal? Untuk kita sendirikah, atau untuk sesuatu yang kau ciptakan sendiri? Sesuatu yang kau ciptakan dari imaji agar kau tetap bersemangat berlari di jalanan kehidupan. Sebuah alasan, seseorang, atau apapun itu.

2009, akhir semester yang melelahkan :)

Komentar bertahan »

Mahasiswa Gaek 2 Hehehehe

Sore-sore gak sengaja nongkrong sama temen di kampus. Gak tahu kenapa, lapangan Sansiro Sospol kayaknya pewe buanget buat nongkrong. Adem, angin senja sepoi-sepoi, plus cewek2 komunikasi yang berbadan padat dibalut pakaian ketat sliwar-sliwer hehehehe……Mak nyusshhhh!!!!
Ngobrol ngalor-ngidul, dari mbahas dugem, politik, cewek, sampai ya ujung-ujungnya ada yang mbahas film lunyu juga (ini udah kodrat cowok gak bisa lepas dari yang saru-saru tur wagu). Tapi yang paling penting dari obrolan itu , coba tebak, apalgi kalo bukan masalah skripsi hohoho. Maklum, yang ngobrol mahasiswa tingkat lanjut semua (kalo gak mau disebut angkatan tuwir, bahkan ada yang udah bulukan). Skripsi-skripsi, tugas nulis yang gampang-gampang susah. Gampang ngerjainnya, karena banyak waktu luang. Susahnya adalah, karena banyak waktu luang itu godaan duniawi makin merajalela. Apalagi sondrom pasca KKN yang bikin mahaiswa suka keluyuran gak jelas.
Trus abis skripsi dan wisuda mo ke mana? Ada yang bilang mo sekolah S2, kerja, dan yang jawab gak tahu pun banyak, bahkan banyak jawaban konyol gak jelas seperti kenaikan harga BBm yang gak jelas juntrungannya ( Oy!!!…. kok ngaitin BBm si? makin gak jelas juga nih tulisannya!). Tapi yang pasti, suara mayoritas, dari lubuk hati yang terdalam, bakalan jawab gak tahu mo ngapain. Kayak air ngalir aja, masih terlalu jauh memikirkan masa depan yang ini itu. Lebih baik jalani yang ada sekarang dulu, masa depan dipikirkan pelan-pelan. Yang terpenting adalah memeprsiapkan diri dan mental.
Ngomongin mental soalnya secara gak sengaja, kita-kita ngeliat temen yang kayaknya udah keburu pengin lulus (soalnya skripsinya dah jalan gitu), tapi kalo ngeliat perawakan dan tingkah lakunya masih kanak-kanak banget. Maunya die-emong mulu kayak balita, padahal habis lulus kan kita langsung ngadepin realita yang segitu hebatnya. Persaingan dan pertarungan jalanan sejati, yang kuat dan berkemampuan yang menang, yang masih gak bisa menghadapi hidup secara dewasa boleh menyingkir atau terkapar. Kalo udah lulus dan wisuda, siap gak sih kita menghadapi hidup? Kan udah gak mahasiswa lagi yang selalu beridealisme, tapi kita jadi nya masuk angkatan kerja yang mau-gak mau harus kompromi ma sistem. Kuat gak ya ngadepin hidup dengan dua tangan dan kaki kita sendiri.
Akhirnya, daripada mumet mikirin masa depan yang dekat dengan diri kita tapi rasanya jauh mengawang, kami semua nutup nongkrong sore dengan makan bakso heheheheh dan nyruput rokok…Mak nyuuussshhhh!!!!

Komentar bertahan »

Sinemata 5 Hari (Buat Pisgen)

Aku tidak tahu, apa blogku ada yang baca atau tidak. Aku hanya ingin menuliskan apa yang ingin aku tulis. KArena aku adalah seorang anak penulis. Ibu dan ayahku bersatu lewat surat cinta, aku tumbuh bersama tumpukan buku-buku ayah yang berdebu namun selalu membuaiku dalam fantasi tanpa akhir pada malam-malamku, dan…..aku hidup dari goresan tinta ayah yang menulis kata demi kata. Aku tak peduli jika blogku ini hanya kubaca seorang, lain tidak.
Aku hanya ingin menulis. Karena sejak hari itu, otakku sudah berputar-putar dan tubuhku seraya ingin melompat-lompat. Ada pacu adrenalin imaji di dalam darah sana. Sesuatu yang menjuah-juah. Ya….sejak hari itu, kawan. Ketika seluruh hidupku dihabiskan untuk bertarung di lumpur-lumpur. Tiba-tiba aku berada di tengah orang-orang yang rela berhenti sejenak dari penatnya hidup yang meracau dalam hati, untuk memandu, mengenalkan kembali arti sebuah kata…..perdamaian. Satu kata yang semakin kabur makna, dan nyaris dilupakan.
Lima hari, dalam kumpulan anak manusia yang berbeda warna, latar belakang, pikiran, apapun itu. Dengan pikiran masing-masing, perlahan tapi pasti berbaur menjadi satu. Bagai arak dan rum menari-nari dalam cawan emas.
Anak-anak manusia, yang serta merta berkumpul ini. Tak peduli apa kata orang di luar sana tentang perdamaian. Bisa jadi kami-kami ini di-cap utopis, karena sok menjadi nabi dan rasul menyebarkan pesan damai dan bla…bla…bla. Atau, kalaupun ada di antara kami yang khawatir disebut utopis, aku tetap akan mengangkat topiku sebagai tanda penghormatan. Mereka yang takut disebut utopis, namun tetap terus ikut berkumpul bersama kami, adalah orang-orang nyalang hidup yang terus berfikir untuk dunia. Dunia belum kiamat selama masih ada manusia yang berfikir.
Lima hari bersama, dalam balutan kabut ipis dan angin gunung, disertai derai tawa dan kepulan tembakau yang dibakar. Lima hari itu juga anak-anak manusia ini telah menuliskan sejarah mereka masing-masing. Entahlah, lewat seremoni-seremoni itu, yang terkesan seperti repetisi, namun tetap memberi arti mendalam dalam hati anak-anak manusia ini. Setidaknya mereka mampu menuliskan awal sejarah kehidupan yang sama sekali baru dari kisah-kisah historis yang penuh darah dan besi. Tapi lima hari itu, memberikan kekuatan untuk melompat jauh pada hari-hari di masa depan yang tak terperi.
Ohm……Shanti……Shanti…….Ohm……….
Demi daun-daun krisan yang gugur di padang Sri Rama…….semoga kedamaian selalu ada pada manusia……

dedicated to Peace Generation

Komentar bertahan »

Mahasiswa Gaek hehehehe

gila, apa sih yang gue pikirin sekarang? kuliah yang bentar lagi udah harus kelar. nilai yang merangkak naik (semoga tetap kayak gini). tapi di satu sisi tetep aja ada beberapa hal yang masih kocar-kacir di sana-sini.
dari mulai ngerasa bosen sama kuliah, judeg sama dosen-dosen yang suka pergi semau mereka, sampai pikiran yg dari dulu gak pernah ilang-salah ambil jurusan! temen-temen gue yang udah pada lulus cuma bisa bilang:”wajar kok, wajar…..”
apa sih maksudnya wajar itu?wajib dihajar nih gue?kurang bersyukur karena gue udah masuk UGM, HI, nilai yang lumayan baik, dan reputasi yang cukup memuaskan (buseeetttttt……..!)??? puyeng…puyeng……
sindrom mahasiswa yg hampir di ujung masa studi emang kayak gini kali. dulu gue tenang2 aja waktu semester 1. tapi, ya Allah!! waktu itu cepet banget, kayak gak nyadar kalo gue udah 3 tahun kuliah hahahaha. tapi yg bikin gue kuatir ya ini, satu yang bisa bikin gondok mahasiswa cumlaude sekalipun. basa inggris. sumpah mati, ampun dj, inggris gue ancoooeerrrrr!!!cas..cis..cus…oke, tapi kalo urusan menulis formal, hadhuuuhhhhh simbok!! dari dulu pengin belajar lagi, tapi hehehehe……biasa mahasiswa rantau. makan aja gak teratur, senin makan selasa puasa, gimana mo les bahasa? kayaknya gue mesti berbenah diri. meski udah rada telat, tapi toh masih belum terlambat. gue belon lulus, belon skripsi hihihi…..
dulu gue ngerasa kangen sama masa-masa SMA, tiga tahun ke depan mungkin gue bakal kangen sama masa-masa kuliah sebagai mahasiswa. bakal kemana yah idelaisme gue sekarang? masih bisa gue ngomong : yaa Allah Robbi siji? atau malah jadi ya Allah Mercy Robbi?

Komentar bertahan »

Cinta monyet umur 21

Itu ada seorang gadis
Aku kenali pertama di tengah hiruk pikuk manusia
Di saat warna-warni lampu sabtu malam terasa begitu syahdu
Dan motor-motor berparade lamat-lamat di tengah nafas muda-mudi yang dimabuk cinta

Dua…tiga menit….waktu menipuku
Terasa lama namun juga cepat merambati otak
Kubercakap dengan dia, diselingi jemari memainkan sumpit mie…
Tang…ting…tek..tek….
Duduk berseberangan dalam sebuah kedai
Di pinggir jalan yang bising parade kanlpot dan klakson
Tapi tetap saja hanya seperti aku dan dia

Gadis manis…
Mata hitam…rambut hitam
Binar mata di bawah sinar lampu
Ini bius pikirku….laiknya morfhin menari-nari di pembuluh darah
Dan aku terkapar tak berdaya hahahah!!!
Sial benar pikirku….

Satu pertemuan….dua kali jantungku berdegup kencang
Sehari…dua berselang..hingga seminggu
Aku bagai orang bodoh di tengah lautan manusia
Alamakjang! Apa kata dunia?!
Berucap tak ada daya, menatap tiada bisa, bernyali pun tiada punya

Komentar bertahan »

Sebutir kurma dari padang Isfahan

ini bulan ramadhan
tiap desah nafasnya terasa khusus di setiap jiwa
bahkan bagi jiwa2 nyalang seperti kita….
yang sehari-hari dibasuh debu dan lumpur kehidupan

biar matahari tetap bersinar terik tiap harinya
dan deru parade knalpot masih mebisingkan telinga kita
ini adalah ramadhan….sedikit waktu dimana kita merasa tenang seperti bertapa di bawah rembulan

biar kita pulang sejenak dan manjauh dari hiruk-pikuk
sedikit melepas rindu pada segala sesuatu yang membuat kita menjadi syahdu dan bahagia
walau sejenak….dalam waktu yang melesat cepat

semoga kedamaian bulan ini bukanlah yang terakhir
tetapi selalu menjadi sesuatu yang seakan baru
tempat kita membasuh diri…sebelum tubuh benar2 terkapar lemas bertarung

selamat ramadhan bro….
kedamaian dalam hati kita yang gelisah
sejenak waktu untuk bersimpuh pada-Nya
setelah setiap hari jiwa kita capai menghunus pedang dan memaki-maki hidup
mohon maaf lahir bathin….

Ramadhan 2008

Komentar bertahan »

Sin City

ada yg tersungkur
bunyi gemeretak tulang saat ia jatuh…..berdebam!!
diam…kaku…terkapar…
namun utuh membentuk siluet di bawah sinar bulan yang redup
wajah yang kuyu…tangan yang menggenggam lemah

saat ia tak tahan tuk berlari lagi
dari pertarungan hidup yang menghujani jutaan panah ujung menghunus
maka terjunlah!!
dari puncak menara tertinggi asa manusia
yang dibangun dengan pondasi darah dan peluh manusia
maka terjunlah!!
ketika lari sudah tak kuasa, dan bisa membawa terbang bebas lagi

ada perasaan bebas ketika tubuh dibalut desiran angin
hidup yang melesat cepat menuju batas
dalam sekali desah nafas, dalam sekali kedipan mata
ia…serasa menjadi malaikat…
sorak sorai syuhada menggema dalam jiwa

tapi ada pula yang tercekat
dalam langit yang biru kelabu dingin
maut menggerayangi mesra tubuh itu
dan tubuh itu jatuh seperti puntung rokok yang dibuang

Komentar bertahan »

Via Dolorossa

Melihat langit malam itu, serasa melihat kunang-kunang di Manhattan. Seribu warna-warni memecah riuh di atasa sana, di tengah langit yang masih diselimuti biru sehabis hujan. Bunyi meretak, lalu disertai gemuruh suara manusia nan riuh rendah. Terompet ditiup kuat-kuat, seakan hingga penghabisan nafas yang terakhir.

Setahun berlalu, setahun pula terasa begitu cepat. Yang lalu kuhabiskan ujung tahun dengan segelas bir di genggaman tangan, tahun ini kuhabiskan dengan seliter box susu sapi hahahaha…! Tapi satu perasaan yang sama, esok pagi aku bangun dengan perasaan dikejar-kejar oleh arus kehidupan dan raungan nafsi-nafsi manusia.

Dalam waktu yang singkat itu, yang indah namun menyimpan kesedihan, yang terang namun terasa temaram, di dalam keramaian yang sepi terenyuh, aku bagaikan sampai pada titik nadir. Kuangkat minumanku tinggi-tinggi, berhenti sejenak, lalu: “Selamat Tahun Baru!!.” Bersorak hingga penghabisan.

Jalanan kutatap kosong, semilir angin malam yang berlalu lembut. Dosa masa lalu yang tak ingin kulihat lagi, doa yang terus terucapkan dari sang bibir untuk esok hari, dan langkah kaki yang semakin berat namun tetap menopang kuat dari hati yang terus bergita cinta. Aku pergi, selamat tinggal semuanya, semoga bisa kusongsong karmaku yang baru….oh Tuhan, dan akhirnya kuucap bismi……bismi……bismi….(dan setitik embun mengalir dari kelopak mataku kawan).

Desmber 2007, 00.00 wib.

Komentar bertahan »

Santo Paulus Miki 2003

Suatu masa yang pernah kulalui dalam lembaran hidup, menuntunku tuk tinggalkan nafsi-nafsi. Ketika aku ingin berikan sebuah rasa di hatinya, dia lebih dulu terbang tebarkan dinginnya salju. Aku tak pernah memiliki perasaanku dengan utuh, terlebih pada seorang dewi bermahkota helaian cinta. Dia layaknya sang bulan bersinar menawan, terangi hati dengan kecerahan. Namun sinarnya bukanlah daripadanya, hanyalah seberkas pantulan karna dogma-dogma.

Aku akui, terkadang aku terlalu munafik. Membuang diriku pada lorong-lorong kebingungan. Menyepi dari keramaian dan canda-tawa, menutupi diriku dengan jubah tebal dari wewangian dunia dan warna-warni pesta. Semuanya hanya untuk merasakan nikmatnya kebencian asa dari rongrongan lembut keegoisan hati. Masokis! Aku pun tak mampu ungkapkan diriku ini padanya, sebebas merpati nan elok terbang di taman Eden. Setiap kuingin merajut jaring-jaring kilauan jiwa pada dinding-dinding kencananya, aku tak adapat menapakkan kaki dengan tegak. Hanya kutempatkan tanganku untuk meraba, walau sesaat.

Dia, yang telah pergi di antara guguran daun-daun jiwaku. Dengan iringan sutera ipis yang putih membentang, bersama sunggingan senyum menawannya. Mempermainkan aliran emosiku…..sakit benar di dalam sini. Harusnya kupecahkan saja cawan dalam hatiku, saat kuingin mengisinya. Dan aku tak pernah bisa memilikinya, sebelum aku singgah di pelabuhan itu, disambut matahari hangat.

Sore itu, ketika mentari hendak ke peraduannya. Warna ungu yang mulai memayungi bumi dan angin dingin berhembus. Aku berjalan di antara guguran daun-daun, warna coklat dan diam membisu penghabisan takdir. Tibalah aku di depan gerbang Santo Paulus Miki. Memori demi memori silih berganti seperti putaran rol film. Hidupku memang sinematik. Di sana aku selalu melihat bayangmu jua. Tak pernah bosan kau tersenyum padaku adanya, saat itu. Ya seperti saat ini, kala ungu memayungi bumi, kujemput dirimu, lain tidak. Kunaiki tangga satu-satu, sambil terus menerawang jauh. Di antara langkahku dan di antara pikirku, kulihat binar matamu, lain tidak.

Aku masih saja melangkah, dan semakin masuk ke dalam gereja. “Ini bukan tempatku,” bisikku lirih dari hati. Aku tetap melangkah dan melangkah, satu kaki menapak bumi bersama hembusan nafasku. Bangku-bangku jemaat yang sama, tiang lilin yang sama, dan kaca-kaca via dolorosa yang sama. Megah dan sunyi, tapi ada rasa terenyuh di sini. Romantisme masa lampau, perasaan ceria ketika kudapati dirimu duduk berdoa khusyuk waktu itu, dan ada jua kisah manusia yang absurd. “Hai, Flo……” Aku berucap meski kau tak ada saat ini, hanya mencoba untuk mengenang dan menghilangkan kering tenggorokanku karena mulut yang terkunci rapat. Aku duduk, di bangku yang biasanya kau tempati, lalu diam dalam bisu yang dingin. Kudengar suara-suara, Pastor yang membacakan wahyu dalam bahasa Latin-mengagumkan sekaligus aneh. Gema suara para jemaat ketika bernyanyi, samar-samar namun pasti menggetarkan sukma. Dan tentu….ada jua kudengar suaramu Flo, meski sangat pelan-lalu aku menangis.

Apa yang kau doakan Flo? Ketika kau mengusapkan air suci dari bejana, lalu berlutut di lantai marmer dingin. Apa yang kau doakan Flo? Kala matamu terpejam damai, dan senyum tersungging diantara sesapan bibirmu nan merekah. Tak perlu kau ucapkan padaku Flo, meski saat ini kau tak ada. Aku tahu dan mengerti, pada Rosario yang penghabisan kau berdoa untukku. Meski kau tahu kita berbeda, tapi doa yang tulus tak mengenal perbedaan kasta, harta, bahkan iman. Meski kau tak pernah mengucapnya dengan pasti, tapi aku tahu dalam rasa syukurmu ada aku, walau secuil.

Kiranya beda itu yang memisahkan kita, tapi dalam beda ada jarak rasa yang begitu dekat dan juga asa. Meski hanya satu sentimeter, itu adalah perihelium antara dirimu dan aku. Ketika mata memandang mata, dan degup jantung bagaikan kode morse, kita berbicara dalam diam, di jarak itu. Jarak itu pula yang membuat kita terbang walau sejenak, tuk saling bersapa dan membagi cerita hidup. Sudah dari awal yang kita tahu pasti, akan ada darah tertumpah di jarak itu, kita terus terbang-walau sesaat.Ini adalah satu dogma alam semesta Flo, yang ditulis sejak zaman Azali. Antara siang dan malam, matahari dan bulan, dwitunggal nun jauh di satu sisi namun juga berbeda di sisi lainnya.

Aku berlutut di depan mimbar, memjam mata dan memnunduk. Di luar gerimis, dan suaranya menitik-nitik di kaca-kaca gereja. Kurasakan seluruh ruangan sungguh menyaksikanku. Aku tak berdoa, karena tempatku bukan di sini. Aku menulis, di lantai marmer, di tembok-tembok, di kubah, dan di serat-serat kayu bangku.

Beri aku sehelai bulu dari sayapmu

Tuk kugenggam dalam kalbuku

Sebagai penjelmaan dari lakumu

Biarkan ia membelai lembut diriku

Menyusuri tiap lekuk tubuh yang rapuh

Beri aku usapan jemari lentikmu

Di saat air mata menetes dari mata sang pendosa

Untuk kau jernihkan airnya

Dan kau usapkan kembali pada helai-helai rambut

Biarlah meresap menembus jiwa

Untuk kurasakan betapa menyejukkan kasihmu

Goreskanlah pada telapak tangan ini

Tinta takdir dari ujung jemarimu

Untuk kau genggam astaku ini

Serta kau tuntun melewati terowongan waktu

Hingga penghabisan

Beri aku senyuman dari bibirmu

Agar aku tahu arti keceriaan mentari

Bersama gemericik musik air

Yang mengalir di matamu

Beri aku sebuah sesapan

Di mana nafas saling memburu

Bagai sepasang kekasih yang memendam rindu

Agar kita melayang bersama

Dengan angin sebagai pijakan

Dan kau merahkan jalan takdirku

Maka biarlah aku menangis di depanmu

Hingga jemari itu memeluk erat

Dan menghujamkan belati kegalauan hati

Biar kurasakan menembusku pelan tanpa sakit

Dan kaupun ikut menangis

Berakhirlah kisah Kamajaya Ratih

Yang selalu kita dendangkan

“Kau pergi?”

“Ya, Flo….”

“Secepat itu?”

“Kau baru saja singgah”

“Entah Flo”

“Sekarang, atau mungkin nanti…”

“Mungkin jua hanya jasadku..”

“Di luar hujan”

“Tuhan ada dalam hujan”

“Di sini juga ada..”

“Bukan tempatku, dan bukan takdirku”

“Aku mengerti….”

“……………………..”

“Jangan menunduk. Tataplah aku…”

“Tak perlu. Kau tahu aku selalu menatapmu dari hati…”

“Seperti pertama dulu ya..?” (Flo tersenyum)

“Pasti…”

“Flo…..kita makhluk setengah iblis…”

“Dan setengah malaikat…”

“Ketika dulu, saat pertama kali, sayap yang mana Flo..?”

“Keduanya”

“Dan kau…”

“Sama..”

“Saling menghujam busur dan saling membelai, bukan?”

“Seperti sekeping uang logam”

“Kutanya Gabriel….”

“Kutanya Jibril jua….”

“Ini pertarungan kita terakhir…..”

“Mungkin….tergantung kalkulasi takdir”

“……………………..”

“Flo…..”

“Aku pergi…….”

“……………………..”

“Hujan….di luar”

“Aku tahu”

“Tuhan ada dalam hujan…………”

Aku pergi. Dan dirimu pergi jualah. Meski rasanya pun terlalu absurd, karena itu tak mungkin adanya. Pada langit yang mengalir air rintik-rintik, pada harumnya tanah basah, pada pucuk-pucuk daun yang tergantung mutiara, pada jatuhnya sinar lampu kota yang temaram. Kita selesaikan pertarungan terakhir, dan jua percintaan terakhir. Tanpa darah yang memercik seperti guguran sakura, tanpa bermandi kelopak mawar. Bola mata yang saling menatap, layaknya sedang becermin satu sama lain. Biar kukenang dirimu yang sempurna, dalam ketiadaanmu. Akhir pertalian yang tak pasti, memastikan bahwa kita tak pernah menghapuskan jejak diriku dan dirimu dalam lautan pasir. Cukup di jalan ini saja, yang harus ditulis dengan tinta merah. Maka terjadilah…Amin.

Komentar bertahan »

Melowgrafitty

terakhir gw dapewt pesen, bahasa lugas gak pakai formal.cukup padat syarat, dan langsung nonjokkk memori gw.simpel sih isinya, cuman pertanyaan2 waktu gw sma kayak apa?gak tahu lagi musim atow demam taon ajaran baru kali y? tapi yg satu ini emang berasa bgt man!!
berapa banyak wkt yg kita habisin di sma?berapa banyak kenangan yang udah sering lewat dengan tiba2 dalam lamunan?bolos bareng, distrap bareng, ngrokok di wc yag baunya ngaudzubillah!! nyontek, ketawa-ketiwi dan stres bareng waktu ujian?rasanya terlalu banyak hal2 indah yang gak bisa disebutin semuanya satu persatu.
rasanya baru kemarin, pertama kali pk seragam putih abu2 dengan dandanan super konyol bin cupu.tapi tiga taon terasa cepat, tanpa bisa nengok ke belakang.dan ternyata kaki kita sudah melangkah jauh sampai sini…..kawan. peluh yang terus mengucur, hari yg berbeda kita hadapi.
tapi tentang tiga tahun itu tetaplah sama, wajah dan senyuman yang sama dalam ingatan.
besok kita bakal jadi orang yg berbeda lagi, tapi kenangan putih abu-abu gak bakal usang ditelan zaman.
sorry frenz, tulisan gw emang rada ngaco ya?tapi gw cuman pengin bagi2 kenangan aja, saat gw inget loe semua di tengah malam sepi nan dingin. sejuput tembakau dan secangkir kopi di bawah bulan separuh warna putih serta langit yang abu-abu.
tiga tahun kita pisah, tapi tiga jariku masih erat mengait tiga jari loe semua.
loe bisa sebarin ini pesen, gak juga gak papa kok.
Bhe-Ha eks Tapol (Tampang Polos) SOS 2

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.