Sinemata 5 Hari (Buat Pisgen)

Aku tidak tahu, apa blogku ada yang baca atau tidak. Aku hanya ingin menuliskan apa yang ingin aku tulis. KArena aku adalah seorang anak penulis. Ibu dan ayahku bersatu lewat surat cinta, aku tumbuh bersama tumpukan buku-buku ayah yang berdebu namun selalu membuaiku dalam fantasi tanpa akhir pada malam-malamku, dan…..aku hidup dari goresan tinta ayah yang menulis kata demi kata. Aku tak peduli jika blogku ini hanya kubaca seorang, lain tidak.
Aku hanya ingin menulis. Karena sejak hari itu, otakku sudah berputar-putar dan tubuhku seraya ingin melompat-lompat. Ada pacu adrenalin imaji di dalam darah sana. Sesuatu yang menjuah-juah. Ya….sejak hari itu, kawan. Ketika seluruh hidupku dihabiskan untuk bertarung di lumpur-lumpur. Tiba-tiba aku berada di tengah orang-orang yang rela berhenti sejenak dari penatnya hidup yang meracau dalam hati, untuk memandu, mengenalkan kembali arti sebuah kata…..perdamaian. Satu kata yang semakin kabur makna, dan nyaris dilupakan.
Lima hari, dalam kumpulan anak manusia yang berbeda warna, latar belakang, pikiran, apapun itu. Dengan pikiran masing-masing, perlahan tapi pasti berbaur menjadi satu. Bagai arak dan rum menari-nari dalam cawan emas.
Anak-anak manusia, yang serta merta berkumpul ini. Tak peduli apa kata orang di luar sana tentang perdamaian. Bisa jadi kami-kami ini di-cap utopis, karena sok menjadi nabi dan rasul menyebarkan pesan damai dan bla…bla…bla. Atau, kalaupun ada di antara kami yang khawatir disebut utopis, aku tetap akan mengangkat topiku sebagai tanda penghormatan. Mereka yang takut disebut utopis, namun tetap terus ikut berkumpul bersama kami, adalah orang-orang nyalang hidup yang terus berfikir untuk dunia. Dunia belum kiamat selama masih ada manusia yang berfikir.
Lima hari bersama, dalam balutan kabut ipis dan angin gunung, disertai derai tawa dan kepulan tembakau yang dibakar. Lima hari itu juga anak-anak manusia ini telah menuliskan sejarah mereka masing-masing. Entahlah, lewat seremoni-seremoni itu, yang terkesan seperti repetisi, namun tetap memberi arti mendalam dalam hati anak-anak manusia ini. Setidaknya mereka mampu menuliskan awal sejarah kehidupan yang sama sekali baru dari kisah-kisah historis yang penuh darah dan besi. Tapi lima hari itu, memberikan kekuatan untuk melompat jauh pada hari-hari di masa depan yang tak terperi.
Ohm……Shanti……Shanti…….Ohm……….
Demi daun-daun krisan yang gugur di padang Sri Rama…….semoga kedamaian selalu ada pada manusia……

dedicated to Peace Generation

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.