Via Dolorossa

Melihat langit malam itu, serasa melihat kunang-kunang di Manhattan. Seribu warna-warni memecah riuh di atasa sana, di tengah langit yang masih diselimuti biru sehabis hujan. Bunyi meretak, lalu disertai gemuruh suara manusia nan riuh rendah. Terompet ditiup kuat-kuat, seakan hingga penghabisan nafas yang terakhir.

Setahun berlalu, setahun pula terasa begitu cepat. Yang lalu kuhabiskan ujung tahun dengan segelas bir di genggaman tangan, tahun ini kuhabiskan dengan seliter box susu sapi hahahaha…! Tapi satu perasaan yang sama, esok pagi aku bangun dengan perasaan dikejar-kejar oleh arus kehidupan dan raungan nafsi-nafsi manusia.

Dalam waktu yang singkat itu, yang indah namun menyimpan kesedihan, yang terang namun terasa temaram, di dalam keramaian yang sepi terenyuh, aku bagaikan sampai pada titik nadir. Kuangkat minumanku tinggi-tinggi, berhenti sejenak, lalu: “Selamat Tahun Baru!!.” Bersorak hingga penghabisan.

Jalanan kutatap kosong, semilir angin malam yang berlalu lembut. Dosa masa lalu yang tak ingin kulihat lagi, doa yang terus terucapkan dari sang bibir untuk esok hari, dan langkah kaki yang semakin berat namun tetap menopang kuat dari hati yang terus bergita cinta. Aku pergi, selamat tinggal semuanya, semoga bisa kusongsong karmaku yang baru….oh Tuhan, dan akhirnya kuucap bismi……bismi……bismi….(dan setitik embun mengalir dari kelopak mataku kawan).

Desmber 2007, 00.00 wib.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.